Gempa

PARAMETER GEMPA

  • Tanggal dan waktu terjadinya gempa
  • Koordinat epicenter (dinyatakan dengan garis lintang dan garis bujur geografi)
  • Kedalaman pusat gempa (focus)
  • Magnitude dan Intensitas maksimum gempa

ž  PUSAT GEMPA (FOCUS) adalah titik di bawah permukaan bumi di mana gelombang gempa untuk pertama kali dipancarkan. Fokus biasanya ditentukan berdasarkan perhitungan data gempa yang diperoleh melalui peralatan pencatat gempa (seismograf).

ž  LOKASI SUMBER GEMPA pada umumnya terdapat diperbatasan antara pelat-pelat tektonik, di mana pada tempat ini sering terjadi sesar/patahan (fault) bidang permukaan bumi.

ž  EPISENTRUM (EPICENTER) adalah titik pada permukaan bumi yang didapat dengan menarik garis melalui focus, tegak lurus pada permukaan bumi.

KEDALAMAN FOKUS adalah kedalaman jarak antara fokus dengan epicentrum. Berdasarkan kedalaman fokus ini, suatu gempa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Gempa dengan kedalaman fokus lebih kecil dari 70 km, disebut Gempa Dangkal.
  • Gempa dengan kedalaman fokus antara 70 km sampai dengan 300 km, disebut Gempa Menengah.
  • Gempa dengan kedalaman fokus lebih besar dari 300 km, disebut Gempa Dalam.

SESAR ATAU PATAHAN (FAULT) adalah retakan di permukaan bumi dimana dua buah pelat tektonik  bergerak dengan arah yang berbeda. Patahan dapat terjadi karena tumbukan dan gesekan antar pelat tektonik.

SKALA RICHTER (Richter Magnitude Scale) adalah Skala yang sering digunakan mengukur kekuatan atau besarnya gempa. Skala ini dibuat oleh Charles F. Richter pada 1934. Skala Richter didasarkan pada skala logaritma dan ditulis dalam angka Arab (1, 2, 3, …. ).

TSUNAMI dapat terjadi bila kondisi di bawah ini terpenuhi :

  • Gempa dengan pusat gempa di lautan.
  • Gempa dengan magnitude >M=6.0 pada Skala Ricter
  • Gempa dengan pusat gempa dangkal, kurang dari 33 Km
  • Gempa dengan pola mekanisme sesar (fault) naik/turun

PERENCANAAN STRUKTUR BANGUNAN TAHAN GEMPA, perlu ditinjau 3 taraf beban gempa, yaitu Gempa Ringan, Gempa Sedang dan Gempa Kuat.

  • Periode ulang terjadinya adalah :
  • Gempa Ringan     : TR = 20 tahun,
  • Gempa Sedang    : TR = 75 tahun
  • Gempa Kuat        : TR = 2500 tahun

BEBAN STATIS adalah beban yang bekerja secara terus-menerus pada suatu struktur. Beban statis juga diasosiasikan dengan beban-beban yang secara   perlahan-lahan timbul serta mempunyai variabel besaran yang bersifat tetap (steady­ states).

BEBAN DINAMIS adalah beban yang bekerja secara tiba-tiba pada struktur. Pada umumya, beban ini tidak bersifat tetap (unsteady-state) serta mempunyai karakterisitik besaran dan arah yang berubah dengan cepat. Deformasi pada struktur akibat beban dinamik ini juga akan berubah-ubah secara cepat.

GEMPA RINGAN adalah gempa yang peluang atau risiko terjadinya dalam periode umur  rencana bangunan 50 tahun adalah 92% (RN = 92%), atau gempa yang periode ulangnya adalah 20 tahun (TR = 20 tahun). Akibat Gempa Ringan ini struktur bangunan harus tetap berperilaku elastis, ini berarti bahwa pada saat terjadi gempa elemen-elemen struktur bangunan tidak diperbolehkan mengalami kerusakan struktural maupun kerusakan non-struktural.

ENGINEERED STRUCTURES adalah struktur-struktur bangunan yang memerlukan tenaga ahli di dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya. Sebagai contoh dari Engineered Structures adalah struktur gedung bertingkat, struktur jembatan dan jalan layang, fasilitas pembangkit tenaga listrik atau tenaga nuklir, bendungan serta bangunan air, dan lain-lain.

NON-ENGINEERED STRUCTURES adalah struktur-struktur bangunan yang direncanakan dan dilaksanakan tanpa bantuan tenaga ahli, tetapi masih harus memenuhi kriteria persyaratan bangunan pada umumnya, sesuai yang tercantum di dalam standar bangunan (building code) yang ada.

Struktur bangunan harus direncanakan sebagai struktur yang daktail, sehingga jika kekuatannya terlampaui pada saat terjadi Gempa Kuat, struktur tidak akan runtuh melainkan akan berdeformasi plastis,  melalui mekanisme terbentuknya sejumlah sendi-sendi plastis pada struktur dengan cara yang terkontrol.

Kriteria Dasar Perencanaan Struktur  Bangunan  Tahan Gempa

ž  Agar perencanaan struktur dapat dilakukan dengan cara analisis statik yang sederhana, tanpa melakukan prosedur analisis dinamik yang rumit, serta perilaku struktur diharapkan mempunyai kinerja yang baik pada saat terjadi gempa, maka sangat penting untuk mengatur tata letak dari struktur bangunan. Beberapa kriteria dasar yang dapat dipakai sebagai acuan untuk merencanakan tata letak struktur bangunan di daerah rawan gempa adalah :

ž  Struktur bangunan harus mempunyai bentuk yang sederhana, kompak  dan simetris

ž  Struktur bangunan tidak boleh terlalu langsing, baik pada denahnya maupun potonganya, serta mempunyai kekakuan yang cukup.

ž  Distribusi dari massa, kekakuan dan kekuatan disepanjang tinggi bangunan diusahakan seragam dan menerus.

(STRONG COLUMN – WEAK BEAM).

ž  Elemen-elemen vertikal dari struktur (kolom) harus dibuat lebih kuat dari elemen-elemen horisontal dari struktur (balok), agar sendi plastis terbentuk terlebih dahulu pada balok-balok

dimana :

Wi =  Bagian dari seluruh beban vertikal yang disumbangkan oleh beban-beban vertikal yang bekerja pada lantai tingkat ke i (kg) pada peninjauan gempa

Fi =  Beban gempa horisontal pada arah yang ditinjau yang bekerja pada lantai tingkat ke i (kg)

di =  Simpangan horisontal pusat berat pada lantai tingkat ke i (mm) akibat beban gempa

n =  Jumlah lantai tingkat pada struktur bangunan gedung

g              =  Percepatan gravitasi yang ditetapkan sebesar 9810 mm/det2.

WAKTU GETAR ALAMI FUNDAMENTAL dari struktur bangunan gedung ditentukan dengan rumus-rumus empirik atau didapat dari hasil analisis vibrasi bebas 3 dimensi, nilainya tidak boleh menyimpang lebih dari 20% dari nilai waktu getar struktur yang dihitung dengan Rumus Rayleigh.

Struktur fleksibel : Struktur portal,  periode getar panjang,  (b)  Struktur kaku : Struktur portal dengan dinding geser, periode getar pendek

POWERPOINT

Gempa bumi (earth quake) adalah suatu gejala fisik yang ditandai dengan bergetarnya bumi dengan berbagai intensitas.

Getaran gempa dapat disebabkan oleh banyak hal antara lain peristiwa vulkanik, yaitu getaran tanah yang disebabkan oleh aktivitas desakan magma ke permukaan bumi atau meletusnya gunung berapi. Gempa yang terjadi akibat aktivitas vulkanik ini disebut gempa vulkanik.

Gempa dapat juga diakibatkan oleh peristiwa tektonik, yaitu getaran tanah yang disebabkan oleh gerakan atau benturan antara lempeng-lempeng tektonik yang terdapat di dalam lapisan permukaan  bumi. Gempa yang terjadi akibat aktivitas tektonik ini disebut gempa tektonik.

Gempa secara langsung tidak membahayakan manusia. Ini berarti bahwa korban jiwa tidak disebabkan karena adanya goncangan tanah yang disebabkan gempa. Kebanyakan dari bencana gempa  yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi diakibatkan oleh runtuhnya struktur bangunan yang dibuat oleh manusia.

===================================

STRUKTUR BUMI

Struktur bumi terdiri dari beberapa lapisan yaitu : permukaan bumi, selimut bumi, inti bagian dalam dan luar.

Lapisan lithosphere setebal kurang lebih (50-100) km adalah bagian dari lapisan permukaan dan lapisan selimut bumi bagian atas, dan merupakan lapisan batuan sangat padat.

Di atas lapisan lithosphere ini terdapat benua (continent) dan lautan (ocean).

Di bawah lapisan lithosphere terdapat lapisan asthenosphere yang merupakan lapisan batuan kurang padat.

Lapisan lithosphere bumi patah menjadi lebih kurang dua puluh keping bagian yang disebut pelat tektonik (plate tectonic).

Pelat-pelat tektonik ini mengambang di atas  lapisan asthenosphere, dan secara perlahan bergerak.

Secara periodik beberapa pelat akan saling berbenturan, dan dapat menyebabkan patahan pada permukaan bumi. Tumbukan antara pelat dapat memicu timbulnya gempa.

==============================

žTeori ini diformulasikan pada awal 1960, dan merupakan suatu penemuan yang baru di bidang geologi. Dengan menggunakan teori ini, para ilmuwan dapat secara ilmiah menjelaskan beberapa fenomena geologi seperti letusan gunung berapi, mekanisme terdinya gempa, terbentuknya pegunungan, serta formasi dari lautan dan benua.
žTeori pelat tektonik dikembangkan dari teori yang diusulkan oleh ilmuwan German Alfred Wegener pada 1921. Dengan melihat bentuk dari benua-benua yang ada sekarang ini dan dengan bukti-bukti geologi yang ditemukan di setiap benua, ia mengembangkan suatu teori mengenai benua yang lepas (continental drift).
žTeori continental drift diawali dengan pendapat bahwa pada masa lalu benua-benua yang ada di bumi ini pernah bergabung menjadi satu membentuk benua yang sangat besar (supercontinent) yang disebut Pangaea.
ž
===============================
žGambar 2-3 menunjukkan formasi benua pada 200 juta tahun yang lalu ketika semua benua masih berkumpul menjadi satu. Sekitar 160 juta tahun yang lalu Pangaea terpecah menjadi dua benua yang besar yaitu Laurasia dan Gondwaland. Setelah sekian lama, kedua benua besar tersebut pecah menjadi beberapa benua dengan dengan bentuk yang seperti yang terlihat sekarang. Diperkirakan perubahan formasi dari benua-benua akan terus berlangsung. Pada gambar juga diperlihatkan prediksi dari formasi benua pada 60 juta tahun mendatang.
žPara ahli geologi pada 1960 menemukan bukti yang mendukung ide dari pelat tektonik dan pergerakannya. Mereka menggunakan teori dari Wegener pada berbagai aspek dari perubahan bumi, dan menggunakan bukti-bukti ini untuk memperkuat teori mengenai benua yang lepas. Pada 1968 para ilmuwan menggabungkan banyak kejadian geologi pada suatu teori yang disebut Global Tektonik Baru (New Global Tectonics) atau lebih dikenal dengan nama Pelat Tektonik.
žSaat ini terdapat tujuh buah pelat tektonik yang besar dan beberapa pelat yang berukuran lebih kecil. Beberapa pelat yang besar meliputi pelat Pasific, pelat North American, pelat Eurasian, pelat Antartica, dan pelat Africa. Pelat yang lebih kecil tediri dari pelat Cocos, pelat Nazca, pelat Caribean, pelat Philippine.
ž
=====================================

Saat ini terdapat tujuh buah pelat tektonik yang besar dan beberapa pelat yang berukuran lebih kecil. Beberapa pelat yang besar meliputi pelat Pasific, pelat North American, pelat Eurasian, pelat Antartica, dan pelat Africa.

Pelat yang lebih kecil tediri dari pelat Cocos, pelat Nazca, pelat Caribean, pelat Philippine.

Secara geografis, kepulauan Indonesia Terletak diantara 60 LU dan 110 LS, serta 950 BT dan 1410 BT, dan terletak pada perbenturan tiga lempeng tektonik yaitu : Lempeng Eurasia, Lempeng Pasific, dan Lempeng Indo- Australia.

Di sekitar lokasi pertemuan antara lempeng, akumulasi energi benturan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi, sehingga energi yang terkumpul akan dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.

=======================================

Lingkungan tektonik Indonesia terdiri dari tiga lempeng tektonik; Indo-Australia, Pasifik dan Eurasia yang bergerak relatif terhadap lainnya (lihat arah panah).

Batas lempeng tektonik merupakan daerah konsentrasi aktifitas gempa bumi (diplot sebagai garis hitam dan segi tiga).

Garis tebal merupakan sesar aktif, sedangkan lingkaran adalah stasiun seismograf (Sumber : Badan Metereologi dan Geofisika).

============================

Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya.Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati(collision) dan saling geser (transform).

Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi.

===================================

žTanggal dan waktu terjadinya gempa
žKoordinat epicenter (dinyatakan dengan garis lintang

dan garis bujur geografi)

žKedalaman pusat gempa (focus)
žMagnitude dan Intensitas maksimum gempa

Contoh :  Gempa Yogya, terjadi pada Sabtu 27 Mei 2006,

jam 05,54. Pusat gempa terletak di 110,330 BT dan  8,260 LS pada kedalaman 17 kilometer. Kekuatan  gempa 6,3 SR dan daya rusaknya mencapai 6-7 MMI.

Pusat gempa (focus) adalah titik di bawah permukaan bumi di mana gelombang gempa untuk pertama kali dipancarkan. Fokus biasanya ditentukan berdasarkan perhitungan data gempa yang diperoleh melalui peralatan pencatat gempa (seismograf).

Lokasi sumber gempa pada umumnya terdapat diperbatasan antara pelat-pelat tektonik, di mana pada tempat ini sering terjadi sesar/patahan (fault) bidang permukaan bumi.

Episentrum (Epicenter) adalah titik pada permukaan bumi yang didapat dengan menarik garis melalui focus, tegak lurus pada permukaan bumi.

Kedalaman fokus adalah kedalaman jarak antara fokus dengan epicentrum. Berdasarkan kedalaman fokus ini, suatu gempa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

•Gempa dengan kedalaman fokus lebih kecil dari 70 km, disebut Gempa Dangkal.
•Gempa dengan kedalaman fokus antara 70 km sampai dengan 300 km, disebut Gempa Menengah.
•Gempa dengan kedalaman fokus lebih besar dari 300 km, disebut Gempa Dalam.
=======================================

Sesar atau patahan (fault) adalah retakan di permukaan bumi dimana dua buah pelat tektonik  bergerak dengan arah yang berbeda. Patahan dapat terjadi karena tumbukan dan gesekan antar pelat tektonik.

Tergantung dari arah terjadinya patahan, pada dasarnya ada dua jenis patahan yang dapat terjadi, yaitu patahan dip slip dan patahan strike slip.

Patahan dip slip atau patahan normal (normal fault) adalah retakan dimana satu bagian dari batuan bergeser kearah vertikal menjauhi bagian yang lain. Patahan jenis ini biasanya terjadi pada wilayah dimana suatu pelat tektonik terbelah dengan sangat lambat, atau pada dua buah pelat tektonik yang saling mendorong satu sama lain.

Patahan strike-slip adalah retakan antara dua pelat tektonik yang bergesekan satu sama lain dalam arah horisontal.

Patahan berlawanan arah (reverse fault) adalah retakan yang terbentuk dimana salah satu pelat tektonik terdorong menuju pelat lainnya. Patahan ini juga terjadi jika sebuah pelat tektonik terlipat akibat tekanan dari pelat yang lain. Pada patahan jenis ini, salah satu bagian dari pelat bergeser kebawah, sedangkan bagian lainnya terdorong ke atas.

==================================

Energi gempa dipancarkan       dalam bentuk gelombang gempa ke permukaan bumi

Gelombang gempa merambat ke permukaan bumi menjadi gelombang permukaan (surface wave)

Gelombang permukaan dengan arah gerakan menggulung (Gelombang Rayleigh)

Gelombang permukaan dengan arah gerakan kesamping (Gelombang Love).

=================================

Jika terjadi gempa yang merusak disuatu tempat, mungkin pertanyaan yang pertama-tama timbul adalah : Berapakah besarnya gempa tersebut dan bagaimana cara mengukurnya?.

Para ahli seismologi mempelajari gempa bumi dengan cara melihat kerusakan yang disebabkan oleh gempa, dan dengan menggunakan seismograf.

Seismograf adalah alat yang dapat merekam goncangan pada permukaan bumi akibat gelombang gempa

Besaran yang dipakai untuk mengukur suatu gempa ada dua, yaitu Intensitas (Intencity) dan Magnitude (Magnitude). Kedua ukuran ini menunjukkan aspek-aspek yang berbeda mengenai suatu gempa.

===============================

Sebelum ditemukannya alat-alat pencatat getaran gempa, satu-satunya cara untuk mengukur besarnya gempa adalah dengan jalan pengamatan langsung oleh manusia.

Pada 1902 seorang seimolog dari Italia bernama Giuseppe Mercalli mengusulkan skala intensitas dari I sampai dengan XII

Setiap tingkatan intensitas didefinisikan berdasarkan pengaruh gempa yang didapat dari pengamatan, seperti goncangan tanah, dan kerusakan dari struktur bangunan seperti gedung, jalan, dan jembatan.

Tingkat intensitas I sampai VI, digunakan untuk mendeskripsikan apa yang dilihat dan dirasakan orang selama terjadinya gempa ringan dan gempa sedang. Sedangkan tingkat intensitas VII sampai dengan XII digunakan untuk mendeskripsikan kerusakan pada struktur bangunan selama terjadinya gempa kuat.

Beberapa hal yang dapat menyebabkan banyaknya kerusakan dari bangunan saat terjadi gempa adalah : desain konstruksi bangunan, jarak lokasi bangunan dari pusat gempa, dan kondisi lapisan permukaan tanah dimana bangunan tersebut didirikan.

================================

SKALA INTENSITAS KETERANGAN
I Tidak terasa orang, hanya tercatat oleh alat pencatat yang peka
II Getaran terasa oleh orang yang sedang istirahat, terutama orang yang berada di lantai dan di atasnya
III Benda-benda yang tergantung bergoyang, bergetar ringan
IV Getaran seperti truk lewat. Jendela, pintu dan barang pecah belah bergemerincing
V Getaran terasa oleh orang di luar gedung. Orang tidur terbangun. Benda-benda tidak stabil di atas meja terguling atau jatuh. Pintu bergerak menutup dan membuka.
VI Getaran terasa oleh semua orang. Banyak orang takut dan keluar rumah. Berjalan kaki sulit. Kaca jendela pecah. Meja dan kursi bergerak.
VII Sulit berdiri. Getaran terasa oleh pengendara motor dan mobil. Genteng di atap terlepas.
VIII Pengemudi mobil terganggu. Tembok bangunan retak.
IX Semua orang panik. Tembok bangunan mengalami kerusakan berat. Pipa-pipa dalam tanah putus.
X Sebagian konstruksi portal dan temboknya rusak beserta pondasinya. Tanggul dan bendungan rusak berat. Rel kereta api bengkok sedikit.

Banyak terjadi tanah longsor.

XI Rel kereta api rusak berat. Pipa-pipa di dalam tanah rusak
XII Terjadi kerusakan total. Bangunan-bangunan mengalami kerusakan. Barang-barang terlempar ke udara.

===========================

Skala yang sering digunakan mengukur kekuatan atau besarnya gempa adalah Skala Richter (Richter Magnitude Scale). Skala ini dibuat oleh Charles F. Richter pada 1934. Skala Richter didasarkan pada skala logaritma dan ditulis dalam angka Arab (1, 2, 3, …. ).

Besaran pada Skala Richter ditulis berdasarkan skala logaritma (base 10), ini berarti bahwa setiap penambahan satu angka pada Skala Richter, akan mempresentasikan kenaikan sebesar 10x lipat pada pergerakan tanah akibat gempa.

Dengan menggunakan Skala Richter, gempa yang tercatat 5 SR akan mengakibatkan goncangan tanah 10x lebih kuat dibandingkan gempa dengan skala 4 SR, dan per permukaan bumi akan bergerak sejauh 10x.

Magnitude gempa dapat mencermikan kondisi sesungguhnya dari besarnya gempa, tetapi tidak memberikan gambaran mengenai derajat kerusakan yang disebabkan oleh gempa.

Perlu dicatat, bahwa suatu gempa dengan magnitude besar yang terjadi di tengah samudera, mungkin tidak akan mengakibatkan kerusakan pada bangunan, bahkan getarannya pun mungkin tidak akan dirasakan oleh manusia yang berada di darat. Sebaliknya suatu gempa dengan magnitude rendah tetapi mempunyai pusat gempa yang dekat pada suatu kota yang padat penduduk dan bangunan, dapat menyebabkan banyak kerusakan.

===============================

Magnitude Gempa

(SR)

Kelas Kekuatan Gempa Pengaruh Gempa Perkiraan Kejadian Pertahun
< 2,5 Minor earthquake Pada umumnya tidak dirasakan, tetapi dapat direkam oleh seismograf. 900,000
2,5 s.d 4,9 Light earthquake Selalu dapat dirasakan, tetapi hanya menyebabkan kerusakan kecil. 30,000
5,0 s.d 5,9 Moderate earthquake. Menyebabkan kerusakan pada bangunan dan struktur-struktur yang lain. 500
6,0 s.d 6,9 Strong earthquake Kemungkinan dapat menyebabkan kerusakan besar, pada daerah dengan populasi tinggi. 100
7,0 s.d 7,9 Major earthquake Menimbulkan kerusakan yang serius. 20
³ 8,0 Great earthquake Dapat menghancurleburkan daerah yang dekat dengan pusat gempa. satu setiap 5-10 tahuN

S

Pada 26 Desember 2004, terjadi gempa dengan kekuatan 9 Skala Richter kurang lebih 150 km di lepas pantai Aceh. Empat puluh lima menit kemudian gelombang tsunami melanda Pulau Nias dan Banda Aceh. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, gelombang tsunami ini menyapu daerah pesisir pantai Nanggroe Aceh Darussalam sepanjang 800 kilometer.

Sebanyak 130000 orang tewas dan 37000 dinyatakan hilang. Selain korban jiwa, tsunami di Aceh telah menyebabkan 500000 orang kehilangan rumah, 3000 km jalan rusak, lebih dari 2000 gedung sekolah, 8 rumah sakit, 144 puskesmas rusak/ hancur. 120 jembatan arteri dan 1500 jembatan kecil rusak, 14 pelabuhan rusak parah, 8 lapangan udara rusak.

Tsunami dapat terjadi bila kondisi di bawah ini terpenuhi :

•Gempa dengan pusat gempa di lautan.
•Gempa dengan magnitude >M=6.0 pada Skala Ricter
•Gempa dengan pusat gempa dangkal, kurang dari 33 Km
•Gempa dengan pola mekanisme sesar (fault) naik/turun

WILAYAH GEMPA

Gempa dapat terjadi kapan saja dan dimanapun di bumi ini, tetapi pada umumnya gempa terjadi di sekitar batas pelat tektonik dan banyak disekitar sesar aktif disekitar batas pelat tektonik. Dengan demikian lokasi gempa cenderung terkonsentrasi pada tempat-tempat tertentu saja, seperti pada batas pelat tektonik Pasific. Tempat ini dikenal dengan nama Lingkaran Api (Ring of Fire) karena banyaknya gunung berapi dan aktivitas geologi.

Konsep keamanan dari suatu bangunan terhadap gempa, harus dikaitkan dengan risiko atau peluang terjadinya (incidence risk) gempa tersebut selama umur rencana (design life time) dari struktur bangunan. Karena gempa merupakan peristiwa probabilistik, maka gempa dengan kekuatan atau intensitas tertentu, mempunyai periode ulang (return period) yang tertentu pula.

Hubungan antara umur rencana bangunan, periode ulang gempa, dan risiko terjadinya gempa, berdasarkan teori probabilitas/statistik dapat dinyatakan dalam suatu persamaan :

dimana :   RN  =   Risiko terjadinya gempa selama umur rencana (%)

TR     =   Periode ulang terjadinya gempa (tahun)

N     =   Umur rencana dari bangunan  (tahun)

Pada perencanaan struktur bangunan tahan gempa, perlu ditinjau 3 taraf beban gempa, yaitu Gempa Ringan, Gempa Sedang dan Gempa Kuat.

Pada perencanaan struktur bangunan tahan gempa, perlu ditinjau 3 taraf beban gempa, yaitu Gempa Ringan, Gempa Sedang dan Gempa Kuat.

Periode ulang terjadinya adalah :   Gempa Ringan    : TR = 20 tahun,

Gempa Sedang   : TR = 75 tahun

Gempa Kuat   : TR = 2500 tahun.

Umur rencana rata-rata bangunan di Indonesia adalah N = 50 tahun.

Dengan menggunakan rumus diatas, akan didapatkan besarnya risiko terjadinya gempa pada struktu bangunan adalah :   Gempa Ringan   : RN = 92%

Gempa sedang   : RN = 50%

Gempa Kuat   : RN = 2%.

Ternyata tingkat risiko gempa yang dapat terjadi pada struktur bangunan di Indonesia selama umur rencananya adalah cukup besar, hal ini perlu kiranya menjadi perhatian bagi para perencana struktur.

Untuk dasar perencanaan struktur digunakan Gempa Rencana, yaitu gempa dengan periode ulang 500 tahun.

Pemilihan periode ulang TR = 500 tahun didasarkan pada tingkat probabilitas terjadinya gempa yang dapat diterima yaitu RN = 10%, mengingat umur efektif rata-rata struktur bangunan di Indonesia adalah sekitar 50 tahun.

žDalam menjalankan fungsinya, setiap struktur Teknik Sipil akan menerima  pengaruh dari luar yang perlu dipikul. Selain pengaruh dari luar, sistem struktur yang terbuat dari material bermassa, juga akan memikul beratnya sendiri akibat pengaruh gravitasi.
žSelain pengaruh dari luar yang dapat diukur sebagai besaran gaya atau beban, seperti berat sendiri struktur, beban akibat hunian atau penggunaan struktur, pengaruh angin atau getaran gempa, tekanan tanah atau tekanan hidrostatik air, terdapat juga pengaruh luar yang tidak dapat diukur sebagai gaya. Sebagai contoh adalah pengaruh penurunan pondasi pada struktur bangunan, atau pengaruh temperatur / suhu pada elemen-elemen struktur.
*Dalam melakukan analisis dan desain dari suatu struktur bangunan, perlu adanya gambaran yang jelas mengenai perilaku dan besarnya beban yang bekerja pada struktur.
*Hal penting yang berkaitan dengan karakteristik beban untuk keperluan analisis struktur adalah pemisahan antara beban-beban yang bersifat statis dan dinamis. Secara umum, beban luar yang bekerja pada struktur Teknik Sipil dapat dibedakan menjadi beban statis dan beban dinamis.
žBeban statis adalah beban yang bekerja secara terus-menerus pada suatu struktur. Beban statis juga diasosiasikan dengan beban-beban yang secara   perlahan-lahan timbul serta mempunyai variabel besaran yang bersifat tetap (steady­ states). Dengan demikian, jika suatu beban mempunyai perubahan intensitas yang berjalan cukup perlahan sedemikian rupa sehingga pengaruh waktu tidak dominan, maka beban tersebut dapat dikelompokkan sebagai beban statik (static load). Deformasi dari struktur akibat beban statik akan mencapai puncaknya jika beban ini mencapai nilainya yang maksimum. Beban statis pada umumnya dapat dibagi lagi menjadi beban mati, beban hidup, dan beban khusus, yaitu beban yang diakibatkan oleh penurunan pondasi atau efek temperatur
žBeban dinamis adalah beban yang bekerja secara tiba-tiba pada struktur. Pada umumya, beban ini tidak bersifat tetap (unsteady-state) serta mempunyai karakterisitik besaran dan arah yang berubah dengan cepat. Deformasi pada struktur akibat beban dinamik ini juga akan berubah-ubah secara cepat.
žUntuk keperluan analisis struktur bangunan, sampai dengan tingkat intensitas beban tertentu serta batasan dari kondisi struktur bangunan tertentu, beban dinamik yang bekerja pada struktur, dapat  diasumsikan sebagai beban statik ekuivalen.
žSebagai contoh, analisis struktur bangunan gedung terhadap getaran gempa dapat dilakukan dengan metode analisis statik yang sederhana, yaitu Analisis Beban Gempa Statik Ekuivalen.
*Metode analisis statik ini dapat digunakan untuk menggantikan metode analisis dinamik yang cukup rumit. dengan persyaratan struktur yang dianalisis mempunyai bentuk yang simetris dengan ketinggaan bangunan gedung tidak lebih dari 40 m.
*Untuk bangunan gedung dengan bentuk yang tidak beraturan atau bangunan dengan ketinggian lebih dari 40 m, analisis struktur harus dilakukan secara dinamik.
žUntuk keperluan analisis dan desain struktur bangunan, besarnya beban mati harus ditaksir atau ditentukan terlebih dahulu. Beban mati adalah beban-beban yang bekerja vertikal ke bawah pada struktur dan mempunyai karakteristik bangunan, seperti misalnya penutup lantai, alat mekanis, dan partisi. Berat dari elemen-elemen ini pada umumnya dapat diitentukan dengan mudah dengan derajat ketelitian cukup tinggi.
žUntuk menghitung besarnya beban mati suatu elemen dilakukan dengan meninjau berat satuan material tersebut berdasarkan volume elemen. Berat satuan (unit weight) material secara empiris telah ditentukan dan telah banyak dicantumkan tabelnya pada sejumlah standar atau peraturan pembebanan. Volume suatu material biasanya dapat dihitung dengan mudah, tetapi kadang kala akan merupakan pekerjaan yang berulang dan membosan­kan.
žBerat satuan atau berat sendiri dari beberapa material konstruksi dan komponen bangunan gedung dapat ditentukan dari peraturan yang berlaku di Indonesia yaitu Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983 atau peraturan tahun 1987. Informasi mengenai berat satuan dari berbagai material konstruksi yang sering digunakan perhitungan beban mati dicantumkan berikut ini.
žFungsi dari elemen struktur khususnya pelat lantai, adalah untuk mendukung beban-beban hidup yang dapat berupa berat dari orang-orang atau hunian, perabot, mesin-mesin, peralatan, dan timbunan-timbunan barang.
žBeban hidup adalah beban yang bisa ada atau tidak ada pada struktur untuk suatu waktu yang diberikan. Meskipun dapat berpindah-­pindah, beban hidup masih dapat dikatakan bekerja secara perlahan-lahan pada struktur. Beban  yang diakibatkan oleh hunian atau penggunaan (occupancy loads) adalah beban hidup. Yang termasuk ke dalam beban penggunaan adalah berat manusia, perabot, barang yang disimpan, dan sebagainya.
žBeban yang diakibatkan oleh salju atau air hujan, juga temasuk ke dalam beban hidup. Semua beban hidup mempunyai karakteristik dapat berpindah atau, bergerak. Secara umum beban ini bekerja dengan arah vertikal ke bawah, tetapi kadang-kadang dapat juga berarah horisontal.
žBeban hidup yang bekerja pada struktur dapat sangat bervariasi, sebagai contoh seseorang dapat berdiri di mana saja dalam suatu ruangan, dapat berpindah-pindah, dapat berdiri dalam satu kelompok. Perabot atau barang dapat berpindah-pindah dan diletakkan dimana saja di dalam ruangan. Dari penjelasan ini, jelas tidak mungkin untuk meninjau secara terpisah semua kondisi pembebanan yang mungkin terjadi. Oleh karena itu dipakai suatu pendekatan secara statistik untuk menetapkan beban hidup ini, sebagai suatu beban statik terbagi merata yang secara aman akan ekuivalen dengan berat dari pemakaian terpusat maksimum yang diharapkan untuk suatu pemakaian tertentu.
žBeban hidup aktual sebenarnya yang bekerja pada struktur pada umumnya lebih kecil dar ipada beban hidup yang direncanakan membebani struktur. Akan tetapi, ada kemungkinan beban hidup yang bekerja sama besarnya dengan beban rencana pada struktur. Jelaslah bahwa struktur bangunan yang sudah direncanakan untuk penggunaan, tertentu harus diperiksa kembali kekuatannya apabila akan dipakai untuk penggunaan lain. Sebagai contoh, bangunan gedung  yang semula direncanakan untuk apartemen tidak akan cukup kuat apabila digunakan untuk gudang atau kantor.
žBesarnya beban hidup terbagi merata ekuivalen yang harus diperhitungkan pada struktur bangunan gedung, pada umumnya dapat ditentukan berdasarkan standar yang berlaku. Beban hidup untuk  bangunan gedung adalah sebagai berikut :
ž
žPada suatu bangunan gedung bertingkat banyak, adalah kecil kemungkinannya semua lantai tingkat akan dibebani secara penuh oleh beban hidup. Demikian juga kecil kemungkinannya suatu struktur bangunan menahan beban maksimum akibat pengaruh angin atau gempa yang bekerja secara bersamaan. Desain struktur dengan meninjau beban-beban maksimum yang mungkin bekerja secara bersamaan, adalah tidak ekonomis. Berhubung peluang untuk terjadinya beban hidup penuh yang membebani semua bagian dan semua elemen struktur pemikul secara serempak selama umur rencana bangunan adalah sangat kecil, maka pedoman-pedoman pembebanan mengijinkan untuk melakukan reduksi terhadap beban hidup yang dipakai.
žReduksi beban dapat dilakukan dengan mengalikan beban hidup dengan suatu koefisien reduksi yang nilainya tergantung pada penggunaan bangunan. Besarnya koefisien reduksi beban hidup untuk perencanaan portal, ditentukan sebagai berikut :
žBesarnya beban angin yang bekerja pada struktur bangunan tergantung dari kecepatan angin, rapat massa udara, letak geografis, bentuk dan ketinggian bangunan, serta kekakuan struktur. Bangunan yang berada pada lintasan angin, akan menyebabkan angin berbelok atau dapat berhenti. Sebagai akibatnya, energi kinetik dari angin akan berubah menjadi energi potensial, yang berupa tekanan atau hisapan pada bangunan.
ždimana V adalah kecepatan angin dalam satuan m/detik.
žBerhubung beban angin akan menimbulkan tekanan dan hisapan, maka berdasarkan percobaan-percobaan, telah ditentukan koefisien-koefisien bentuk tekanan dan hisapan untuk berbagai tipe bangunan dan atap.
žTujuan dari penggunaan koefisien-koefisien ini adalah untuk menyederhanakan analisis. Sebagai contoh, pada bangunan gedung tertutup, selain dinding bangunan, struktur atap bangunan juga akan mengalami tekanan dan hisapan angin, dimana besarnya tergantung dari bentuk dan kemiringan atap (Gambar dibawah). Pada bangunan gedung yang tertutup dan rumah tinggal dengan tinggi tidak lebih dari 16 m, dengan lantai-lantai dan dinding-dinding yang memberikan kekakuan yang cukup, struktur utamanya ( portal ) tidak perlu diperhitungkan terhadap angin.
žPada pembahasan di atas, pengaruh angin pada bangunan dianggap sebagai beban-beban statis. Namun perilaku dinamis sebenarnya dari angin, merupakan hal yang sangat penting. Efek dinamis dari angin dapat muncul dengan berbagai cara. Salah satunya adalah bahwa angin sangat jarang dijumpai dalam keadaan tetap (steady­state). Dengan demikian, bangunan gedung dapat mengalami beban yang berbalik arah. Hal ini khususnya terjadi jika  gedung berada di daerah perkotaan. Seperti diperlihatkan pada Gambar 3, pola aliran udara di sekitar gedung tidak teratur. Jika gedung-gedung terletak pada lokasi yang berdekatan, pola angin menjadi semakin kompleks karena dapat terjadi suatu aliran yang turbulen di antara gedung-gedung tersebut.. Aksi angin tersebut dapat menyebabkan terjadinya goyangan pada gedung ke berbagai arah.
•Angin dapat menyebabkan respons dinamis pada bangunan sekalipun angin dalam keadaan mempunyai kecepatan yang konstan.. Hal ini dapat terjadi khususnya pada struktur-struktur yang relatif fleksibel, seperti struktur atap yang menggunakan kabel. Angin dapat menyebabkan berbagai distribusi gaya pada permukaan atap, yang pada gulirannya dapat menyebabkan terjadinya perubahan bentuk, baik perubahan kecil maupun perubahan yang besar.
•Bentuk baru tersebut dapat menyebabkan distribusi tekanan maupun tarikan yang berbeda, yang juga dapat menyebabkan perubahan bentuk. Sebagai akibatnya, terjadi gerakan konstan atau flutter (getaran) pada atap. Masalah flutter pada atap merupakan hal penting dalam mendesain struktur fleksibel tersebut. Teknik mengontrol fenomena flutter pada atap mempunyai implikasi yang cukup besar dalam desain. dengan Efek dinamis angin juga merupakan masalah pada struktur bangunan gedung bertingkat banyak, karena adanya fenomena resonansi yang dapat terjadi.
žStruktur bangunan yang terletak di bawah permukaan tanah seperti dinding penahan tanah, terowongan, ruang bawah tanah (basement), perlu dirancang untuk menahan tekanan tanah lateral. Jika struktur-struktur ini tenggelam sebagian atau seluruhnya di dalam air, maka perlu juga diperhitungkan tekanan hidrostatis dari air pada struktur. Sebagai ilustrasi, di bawah ini diberikan pembebanan yang bekerja pada dinding dan lantai dari suatu ruang bawah tanah.
ž

Akibat tanah dan air, pada dinding basement akan mendapat tekanan lateral berupa tekanan tanah dan tekanan hidrostatis. Sedangkan pada pelat lantai basement akan mendapat pengaruh tekanan air ke atas (uplift pressure). Jika pada permukaan tanah di sekitar dinding basement tersebut dimuati, misalnya oleh kendaraan-kendaraan, maka akan terdapat tambahan tekanan lateral akibat beban kendaraan pada dinding.

žBesarnya beban gempa yang terjadi pada struktur bangunan tergantung dari beberapa faktor yaitu, massa dan kekakuan struktur, waktu getar alami dan pengaruh redaman dari struktur, kondisi tanah, dan wilayah kegempaan dimana struktur bangunan tersebut didirikan.  Massa dari struktur bangunan merupakan faktor yang sangat penting,  karena beban  gempa merupakan gaya inersia yang besarnya sangat tergantung dari besarnya massa dari struktur.
žBeban gempa yang diperhitungkan pada perencanaan struktur, pada umumnya adalah  gaya-gaya inersia pada  arah horisontal saja.   Pengaruh dari gaya-gaya inersia pada arah vertikal biasanya diabaikan, karena struktur sudah dirancang untuk menerima pembebanan vertikal statik akibat pembebanan gravitasi, yang merupakan kombinasi antara beban mati dan beban hidup. Kebiasaan di dalam mengabaikan pengaruh gaya-gaya inersia pada arah vertikal akibat pengaruh beban gempa pada prosedur perencanaan struktur, akhir-akhir ini sedang ditinjau kembali.
žPada kenyataannya, jarang dijumpai struktur bangunan yang mempunyai hubungan yang sangat kaku antara struktur atas dengan pondasinya. Bangunan-bangunan Teknik Sipil mempunyai kekakuan lateral yang beraneka ragam, sehingga akan mempunyai waktu getar alami yang berbeda-beda pula.  Dengan demikian respon percepatan maksimum dari struktur tidak selalu sama dengan percepatan getaran gempa.
žSistem struktur bangunan yang tidak terlalu kaku, dapat menyerap sebagian dari energi gempa yang masuk kedalam struktur, sehingga dengan demikian beban yang terjadi pada struktur dapat berkurang. Akan tetapi struktur bangunan yang sangat fleksibel, yang  mempunyai waktu getar alami yang panjang yang mendekati waktu getar dari gelombang gempa di permukaan, dapat mengalami gaya-gaya yang jauh lebih besar akibat pengaruh dari gerakan gempa yang berulang-ulang. Besarnya beban gempa horisontal yang dapat terjadi pada struktur bangunan akibat gempa, tidak hanya disebabkan oleh percepatan gempa saja, tetapi juga tergantung dari respons sistem struktur bangunan dengan pondasinya.
žBeberapa faktor lainnya yang berpengaruh terhadap besarnya beban gempa yang dapat terjadi pada struktur adalah, bagaimana massa dari bangunan tersebut terdistribusi, kekakuan dari struktur, mekanisme redaman pada struktur, jenis pondasi serta  kondisi  tanah dasar,  dan tentu  saja perilaku serta  besarnya  getaran gempa  itu sendiri. Faktor yang terakhir ini sangat sulit ditentukan secara tepat karena sifatnya yang acak. Pada saat terjadi gempa, gerakan tanah berperilaku tiga dimensi, ini berarti bahwa gaya inersia yang terjadi pada struktur akan bekerja ke segala arah, baik arah horisontal maupun arah vertikal secara bersamaan.
žAnalisis dan perencanaan struktur bangunan tahan gempa, pada umumnya hanya memperhitungkan pengaruh dari beban gempa horisontal yang bekerja pada kedua arah sumbu utama dari struktur bangunan secara bersamaan.  Sedangkan pengaruh gerakan gempa pada arah vertikal tidak diperhitungkan, karena sampai saat ini perilaku dari respon struktur terhadap pengaruh gerakan gempa yang berarah vertikal, belum banyak diketahui.
žMassa dari struktur bangunan merupakan faktor yang sangat penting, karena beban gempa merupakan gaya inersia yang bekerja pada pusat massa, yang menurut hukum gerak dari Newton besarnya adalah : V = m.a = (W/g).a , dimana a adalah percepatan pergerakan permukaan tanah akibat getaran gempa, dan m adalah massa bangunan yang besarnya adalah berat bangunan  (W) dibagi dengan percepatan gravitasi (g). Gaya gempa horisontal V = W.(a/g) = W.C, dimana C=a/g disebut sebagai koefisien gempa. Dengan demikian gaya gempa merupakan gaya yang didapat dari perkalian antara berat struktur bangunan dengan suatu koefisien.
ž
žPada bangunan gedung bertingkat, massa dari struktur dianggap terpusat pada lantai-lantai dari bangunan, dengan demikian beban gempa akan terdistribusi pada setiap lantai tingkat. Selain tergantung dari massa di setiap tingkat, besarnya gaya gempa pada suatu tingkat tergantung juga pada ketinggian tingkat tersebut dari permukaan tanah. Berdasarkan pedoman yang berlaku di Indonesia yaitu Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Rumah dan Gedung (SNI 03-1726-2003)., besarnya beban gempa horisontal V yang bekerja pada struktur bangunan, dinyatakan sebagai berikut :
ž

C  :  Koefisien gempa, yang besarnya tergantung wilayah gempa dan waktu getar struktur  (tinggi bangunan), jenis tanah

Harga C ditentukan dari  Diagram Respon Spektrum, setelah terlebih dahulu

dihitung waktu getar dari struktur

I   :  Faktor keutamaan struktur

R   :  Faktor reduksi gempa

Wt :  Kombinasi dari beban mati dan beban hidup yang direduksi

žBesarnya koefisien reduksi beban hidup untuk perhitungan Wt, ditentukan sebagai berikut :
žPerumahan / penghunian : rumah tinggal, asrama,

hotel, rumah sakit   = 0,30

žGedung pendidikan : sekolah, ruang kuliah   = 0,50
žTempat pertemuan umum, tempat ibadah, bioskop,   = 0,50
žrestoran, ruang dansa, ruang pergelaran   = 0,50
žGedung perkantoran :  kantor, bank   = 0,30
žGedung perdagangan dan ruang penyimpanan, toko,

toserba, pasar, gudang, ruang arsip, perpustakaan   = 0,80

žTempat kendaraan : garasi, gedung parkir   = 0,50
žBangunan industri : pabrik, bengkel   = 0,90
žAda berbagai jenis beban yang dapat bekerja pada setiap struktur bangunan. Hal penting dalam menentukan beban desain pada struktur adalah dengan pertanyaan, apakah semua beban tersebut bekerja secara simultan atau tidak. Beban mati akibat berat sendiri dari struktur harus selalu diperhitungkan. Sedangkan beban hidup besarnya selalu berubah-ubah tergantung dari penggunaan dan kombinasi beban hidup. Sebagai contoh, adalah tidak wajar merancang struktur bangunan untuk mampu menahan beban maksimum yang  diakibatkan oleh gempa dan beban angin maksimum, serta sekaligus memikul beban hidup dalam keadaan penuh. Kemungkinan bekerjanya beban-beban maksimum pada struktur pada saat yang bersamaan adalah sangat kecil.
žStruktur bangunan dapat dirancang untuk memikul semua beban maksimum yang bekerja secara simultan. Tetapi struktur yang dirancang demikian akan mempunyai kekuatan yang sangat berlebihan untuk memikul kombinasi pembebanan yang secara nyata mungkin terjadi selama umur rencana struktur. Dari sudut pandang rekayasa struktur, desain struktur dengan pembebanan seperti ini adalah tidak realistis dan sangat mahal. Berkenaan dengan hal ini, maka banyak peraturan yang merekomendasikan untuk mereduksi beban desain pada kombinasi pembebanan tertentu.
žUntuk pembebanan pada bangunan gedung bertingkat banyak, sangat tidak mungkin pada saat yang sama semua lantai memikul beban hidup yang maksimum secara simultan. Oleh karena itu diijinkan untuk mereduksi beban hidup untuk keperluan  perencanaan elemen-elemen struktur dengan memperhatikan pengaruh dari kombinasi pembebanan dan penempatan beban hidup.
žUntuk kombinasi pembebanan tertentu sering kali diizinkan untuk mereduksi gaya desain total dengan faktor tertentu. Sebagai contoh, bukan kombinasi 1,0 (beban mati + beban hidup + beban gempa atau angin) yang digunakan untuk perhitungan, melainkan 0,75 (beban mati + beban hidup + beban gempa atau angin) sebagaimana yang disyaratkan oleh banyak peraturan. Yang dimaksudkan dengan ekspresi ini adalah bahwa tidak semua beban akan bekerja pada struktur pada harga maksimumnya secara simultan, mengingat beban gempa atau beban angin adalah beban yang bersifat sementara. Sebaliknya struktur harus direncanakan untuk memikul kombinasi beban mati dan hidup penuh yang bekerja secara simultan, atau diekspresikan sebagai 1,0 (beban mati + beban hidup). Untuk perencanaan struktur bangunan, pada umumnya banyak kombinasi pembebanan yang harus ditinjau di dalam analisis. Elemen-elemen struktur harus direncanakan untuk memikul kombinasi pembebanan terburuk yang mungkin terjadi.
žDi Indonesia, pada umumnya umur rencana dari struktur bangunan rata-rata adalah 50 tahun. Oleh karena itu selama umur rencananya, struktur bangunan harus mampu untuk menerima atau memikul berbagai macam kombinasi pembebanan (load combination) yang mungkin terjadi. Beban-beban yang bekerja pada struktur bangunan, dapat berupa kombinasi dari beberapa kasus beban (load case) yang terjadi secara bersamaan. Untuk memastikan bahwa suatu struktur bangunan dapat bertahan selama umur rencananya, maka pada proses perancangan dari struktur, perlu ditinjau beberapa kombinasi pembebanan yang mungkin terjadi pada struktur.
žSebagai contoh, pada buku Tatacara Perencanaan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung – SNI 03-2847-2002, disebutkan bahwa kombinasi pembebanan yang harus diperhitungkan pada perancangan struktur bangunan gedung adalah :
ž
•Kombinasi Pembebanan Tetap

Pada kombinasi Pembebanan Tetap ini, beban yang harus diperhitungkan bekerja pada struktur adalah :

U = 1,4 D

U = 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (A atau R)

Pada kombinasi Pembebanan Sementara ini, beban yang harus diperhitungkan bekerja pada struktur adalah :

U = 1,2 D + 1,0 L ± 1,6 W + 0,5 (A atau R)

U =  0,9 D ± 1,6 W

U =  1,2 D + 1,0 L ± 1,0 E

U =  0,9.D ± 1,0 W

U = 1,4 (D + F)

U = 1,2 (D + T) + 1,6 L + 0,5 (A atau R)

dimana  D = Beban mati,  L = Beban hidup,  A = Beban atap, R = Beban hujan, W = Beban angin,  E =  Beban gempa, F = tekanan fluida, T = Perbedaan penurunan pondasi, perbedaan suhu, rangkak dan susut beton. Koefisien 1,0, 1,2, 1,6, 1,4, merupakan  faktor  pengali  dari  beban-beban tersebut, yang disebut faktor beban (load factor). Sedangkan faktor 0,5 dan 0,9 merupakan faktor reduksi.

Sistem struktur dan elemen struktur harus diperhitungkan terhadap dua kombinasi pembebanan, yaitu Pembebanan Tetap dan Pembebanan Sementara.  Momen lentur (Mu), momen torsi atau puntir (Tu), gaya geser (Vu), dan gaya normal (Pu) yang terjadi pada elemen-elemen struktur akibat kedua kombinasi pembebanan yang ditinjau, dipilih yang paling besar harganya, untuk selanjutnya digunakan pada proses desain.

žUntuk keperluan analisis dan desain dari suatu struktur bangunan gedung, perlu dilakukan perhitungan mekanika rekayasa dari portal beton dengan dua kombinasi pembebanan yaitu Pembebanan Tetap dan Pembebanan Sementara. Kombinasi pembebanan untuk perencanaan struktur bangunan gedung yang sering digunakan di Indonesia adalah  U = 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (A atau R) dan U = 1,2 D + 1,0.L  ± 1,0 E.  Pada umumnya, sebagai gaya horisontal yang ditinjau bekerja pada sistem struktur portal adalah beban gempa, karena di Indonesia beban gempa lebih besar dibandingkan dengan beban angin. Beban gempa yang bekerja pada sistem struktur dapat berarah bolak-balik, oleh karena itu pengaruh ini perlu ditinjau di dalam perhitungan. Beban mati dan beban hidup selalu berarah ke bawah karena merupakan beban gravitasi, sedangkan beban angin atau beban gempa merupakan beban yang berarah horisontal.

Akibat kombinasi pembebanan, pada elemen balok akan  bekerja momen lentur yang berarah bolak-balik. Penampang balok harus dirancang agar kuat menahan momen-momen ini. Akibat beban gempa atau beban angin yang berarah horisontal, pada elemen-elemen kolom dari struktur, akan  bekerja momen lentur yang berarah bolak-balik. Penampang kolom harus dirancang agar kuat menahan momen-momen ini. Untuk memikul momen lentur yang berubah arah ini, pada umumnya untuk elemen kolom dipasang tulangan simetris.

žKonsep keamanan dari suatu struktur terhadap pengaruh gempa, harus dikaitkan dengan risiko atau peluang terjadinya (incidence risk) gempa tersebut selama umur rencana (design life time) dari struktur bangunan yang ditinjau. Karena gempa merupakan peristiwa probabilistik, maka gempa dengan kekuatan atau intensitas tertentu, mempunyai periode ulang (return period) yang tertentu pula. Dengan demikian, jika risiko terjadinya suatu gempa selama umur rencana bangunan sudah tertentu, maka periode ulang dari gempa tersebut sudah tertentu pula.  Hubungan antara umur rencana bangunan, periode ulang gempa, dan risiko terjadinya gempa, berdasarkan teori probabilitas dapat dinyatakan dalam suatu persamaan matematika sebagai berikut :
ž

dimana :  RN  =   Risiko terjadinya gempa selama umur rencana (%)

TR     =   Periode ulang terjadinya gempa (tahun)

N     =   Umur rencana dari bangunan  (tahun)

žPada perencanaan struktur bangunan tahan gempa, perlu ditinjau 3 taraf beban gempa, yaitu Gempa Ringan, Gempa Sedang dan Gempa Kuat, untuk merencanakan elemen-elemen dari sistem struktur, agar tetap mempunyai kinerja yang baik pada saat terjadi gempa. Gempa Ringan, Gempa Sedang, Gempa Kuat, dan Gempa Rencana untuk keperluan prosedur perencanaan struktur didefinisikan sebagai berikut :

Gempa Ringan adalah gempa yang peluang atau risiko terjadinya dalam periode umur  rencana bangunan 50 tahun adalah 92% (RN = 92%), atau gempa yang periode ulangnya adalah 20 tahun (TR = 20 tahun). Akibat Gempa Ringan ini struktur bangunan harus tetap berperilaku elastis, ini berarti bahwa pada saat terjadi gempa elemen-elemen struktur bangunan tidak diperbolehkan mengalami kerusakan struktural maupun kerusakan non-struktural. Pada saat terjadi Gempa Ringan, penampang dari elemen-elemen pada sistem struktur dianggap tepat mencapai kapasitas nominalnya, dan akan berdeformasi lebih lanjut secara tidak elastis (inelastis) jika terjadi gempa yang lebih kuat.

Karena risiko terjadinya Gempa Ringan adalah 92%, maka dapat dianggap bahwa selama umur rencananya, struktur bangunan pasti akan akan mengalami Gempa Ringan, atau risiko terjadinya Gempa Ringan adalah 100% (RN = 100%).

žGempa Sedang adalah gempa yang peluan atau risiko terjadinya dalam periode umur rencana bangunan 50 tahun adalah 50% (RN = 50%), atau gempa yang periode ulangnya adalah 75 tahun (TR = 75 tahun). Akibat Gempa Sedang ini struktur bangunan tidak boleh mengalami kerusakan struktural, namun diperkenankan mengalami kerusakan yang bersifat non-struktural. Gempa Sedang akan menyebabkan struktur bangunan sudah berperilaku tidak elastis, tetapi tingkat kerusakan struktur masih ringan dan dapat diperbaiki dengan biaya yang terbatas.
ž

Gempa Kuat adalah gempa yang peluang atau risiko terjadinya dalam periode umur rencana bangunan 50 tahun adalah 2% (RN = 2%), atau gempa yang periode ulangnya adalah 2500 tahun (TR = 2500 tahun). Akibat Gempa Kuat ini struktur bangunan dapat mengalami kerusakan struktural yang berat, namun struktur harus tetap berdiri dan tidak boleh runtuh sehingga korban jiwa dapat dihindarkan. Gempa kuat akan menyebabkan struktur bangunan berperilaku tidak elastis, dengan kerusakan struktur yang berat tetapi masih berdiri dan dapat diperbaiki.

žKarena beban pada struktur yang diakibatkan oleh gempa merupakan beban yang tidak pasti, maka untuk menentuklan besarnya beban gempa yang akan digunakan di dalam perencanaan, tidak dipergunakan beban yang diakibatkan oleh Gempa Kuat sebagai dasar perhitungannya. Desain struktur terhadap pengaru Gempa Kuat akan menghasilkan bangunan yang tidak ekonomis. Di dalam standar gempa yang baru dicantumkan bahwa, untuk perencanaan struktur bangunan terhadap pengaruh gempa digunakan Gempa Rencanan. Gempa Rencana adalah gempa yang peluang atau risiko terjadinya dalam periode umur rencana bangunan 50 tahun adalah 10% (RN = 10%), atau gempa yang periode ulangnya adalah 500 tahun (TR = 500 tahun).
žDengan menggunakan Gempa Rencana ini, struktur dapat dianalisis secara elastis untuk mendapatkan gaya-gaya dalam yang berupa momen lentur, gaya geser, gaya normal, dan puntir atau torsi yang bekerja pada tiap-tiap elemen struktur. Gaya-gaya dalam ini setelah dikombinasikan dengan dengan gaya-gaya dalam yang diakibatkan oleh beban mati dan beban hidup, kemudian digunakan untuk mendimensi penampang dari elemen struktur berdasarkan metode LRFD (Load Resistance Factor Design) sesuai dengan standar desain yang berlaku.
žPeluang atau risiko terjadinya gempa pada struktur bangunan  selama umur rencananya dapat dihitung dengan menggunakan rumus probabilitas di atas. Jika periode ulang terjadinya Gempa Ringan : TR = 20 tahun, Gempa Sedang : TR = 75 tahun, dan Gempa Kuat : TR = 2500 tahun, serta umur rencana rata-rata bangunan di Indonesia adalah N=50 tahun, maka akan didapatkan besarnya risiko terjadinya gempa pada struktur bangunan adalah : RN Gempa Ringan = 92% @100%,  RN  Gempa sedang = 50%, dan RN Gempa Kuat = 2%.
žDalam filosofi perencanaan struktur bangunan tahan gempa, dikenal suatu konsep pembebanan gempa  yang disebut  Pembebanan Dua Tingkat.  Konsep Pembebanan Dua Tingkat mempunyai pengertian bahwa, struktur bangunan selama umur rencananya diperkirakan akan dibebani berulang kali oleh Gempa Ringan dan Gempa Sedang, yang mempunyai periode ulang lebih kecil dari 75 tahun. Serta struktur selama umur rencananya diharapkan mampu menahan sekali terjadinya Gempa Kuat dengan periode ulang 2500 tahun.
žPemilihan periode ulang 500 tahun yang dipilih sebagai dasar perhitungan beban Gempa Rencana untuk keperluan perencanaan struktur, didasarkan pada tingkat probabilitas terjadinya gempa yang dapat diterima yaitu 10%, mengingat umur efektif rata-rata struktur bangunan di Indonesia adalah sekitar 50 tahun.  Berdasarkan kemungkinan terjadinya Gempa Ringan, Gempa Sedang dan Gempa Kuat dengan periode ulang 20, 75, dan 500 tahun, ternyata tingkat risiko gempa yang dapat terjadi pada struktur-struktur bangunan di Indonesia selama umur rencananya adalah cukup besar, hal ini perlu kiranya menjadi perhatian bagi para perencana struktur.
žBesarnya beban Gempa Nominal yang digunakan untuk perencanaan struktur ditentukan oleh tiga hal, yaitu oleh besarnya Gempa Rencana, oleh tingkat daktilitas yang dimiliki struktur, dan oleh nilai faktor tahanan lebih yang terkandung di dalam struktur.  Berdasarkan pedoman gempa yang berlaku di Indonesia yaitu Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Rumah dan Gedung (SNI 03-1726-2002)., besarnya beban gempa horisontal V yang bekerja pada struktur bangunan,  ditentukan menurut persamaan :

Dimana, I adalah Faktor Keutamaan Struktur menurut Tabel I, C adalah nilai Faktor Respon Gempa yang didapat dari  Respon Spektrum Gempa Rencana menurut Gambar 2 untuk waktu getar alami fundamental T, dan  Wt  ditetapkan sebagai jumlah dari beban-beban berikut :

*Beban mati total dari struktur bangunan gedung
*Jika digunakan dinding partisi pada perencanaan lantai, maka harus diperhitungkan tambahan beban sebesar 0,5 kPa
*Pada gudang-gudang dan tempat penyimpanan barang, maka sekuran-kurangnya 25% dari beban hidup rencana harus diperhitungkan
*Beban tetap total dari seluruh peralatan dalam struktur bangunan gedung harus diperhitungkan
žDengan probabilitas terjadinya Gempa Rencana adalah 10% dalam kurun waktu umur rencana bangunan gedung 50 tahun, maka menurut teori probabilitas Gempa Rencana ini mempunyai periode ulang 500 tahun. Gempa Rencana ini akan menyebabkan struktur bangunan gedung mencapai kondisi di ambang keruntuhan, tetapi masih dapat berdiri sehingga dapat mencegah jatuhnya korban jiwa. Untuk berbagai kategori bangunan gedung, tergantung pada probabilitas terjadinya keruntuhan struktur bangunan gedung selama umur rencananya, pengaruh Gempa Rencana terhadapnya harus dikalikan dengan suatu Faktor Keutamaan Struktur (I) menurut persamaan :
§

Dimana I1 adalah Faktor Keutamaan untuk menyesuaikan periode ulang gempa berkaitan dengan penyesuaian probabilitas terjadinya gempa itu selama umur rencana gedung, sedangkan I2 adalah Faktor Keutamaan untuk menyesuaikan umur rencana gedung tersebut.

Karena gedung-gedung bertingkat, monumen dan bangunan monumental sama-sama memiliki fungsi biasa, tanpa sesuatu keistimewaan, kekhususan atau keutamaan dalam fungsinya, maka probabilitas terjadinya gempa tersebut selama kurun waktu umur rencana gedung ditetapkan sama sebesar 10%, sehingga berlaku I1 = 1,0. Tetapi umur rencana dari gedung-gedung tersebut berbeda-beda. Gedung-gedung dengan jumlah tingkat sampai 10, karena berbagai alasan dan tujuan pada umumnya mempunyai umur kurang dari 50 tahun, sehingga I2 < 1 karena periode ulang gempa tersebut adalah kurang dari 500 tahun. Gedung-gedung dengan jumlah tingkat lebih dari 30, monumen dan bangunan monumental, mempunyai masa layan yang panjang, bahkan harus dilestarikan untuk generasi yang akan datang, sehingga I2 > 1 karena perode ulang gempa tersebut adalah lebih dari 500 tahun.

žGedung-gedung penting pasca gempa (rumah sakit, instalasi air bersih, pembangkit tenaga listrik, pusat penyelamatan dalam keadaan darurat, fasilitas radio dan televisi), gedung-gedung yang membahayakan lingkungan bila rusak berat akibat gempa (tempat penyimpanan bahan berbahaya) atau membahayakan bangunan di dekatnya bila runtuh aibat gempa (cerobong, tangki di atas menara), mempunyai umur manfaat tidak berbeda dengan gedung-gedung dengan fungsi biasa, yaitu sekitar 50 tahun, sehingga berlaku I2 = 1,0. Tetapi probabilitas terjadinya gempa tersebut selama kurun waktu umur gedung harus dibedakan dan semuanya harus kurang dari 10%, sehingga I1 > 1 karena periode ulang gempa tersebut adalah lebih dari 500 tahun. Kombinasi I1 dan I2 untuk beberapa kategori gedung ditetapkan dalam Tabel 4.1, berikut perkaliannya I.
žGedung-gedung penting pasca gempa (rumah sakit, instalasi air bersih, pembangkit tenaga listrik, pusat penyelamatan dalam keadaan darurat, fasilitas radio dan televisi), gedung-gedung yang membahayakan lingkungan bila rusak berat akibat gempa (tempat penyimpanan bahan berbahaya) atau membahayakan bangunan di dekatnya bila runtuh aibat gempa (cerobong, tangki di atas menara), mempunyai umur manfaat tidak berbeda dengan gedung-gedung dengan fungsi biasa, yaitu sekitar 50 tahun, sehingga berlaku I2 = 1,0. Tetapi probabilitas terjadinya gempa tersebut selama kurun waktu umur gedung harus dibedakan dan semuanya harus kurang dari 10%, sehingga I1 > 1 karena periode ulang gempa tersebut adalah lebih dari 500 tahun. Kombinasi I1 dan I2 untuk beberapa kategori gedung ditetapkan dalam Tabel 4.1, berikut perkaliannya I.
ž
žSalah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi besar kecilnya beban gempa yang  bekerja pada struktur bangunan adalah daktilitas struktur. Beberapa standar perencanaan ketahanan gempa untuk struktur gedung, menggunakan asumsi constant maximum displacement rule, untuk mendefinisikan tingkat daktilitas struktur. Asumsi yang dianut divisualisasikan dalam diagram beban-simpangan (diagram V-d) yang ditunjukkan dalam Gambar 4.14. Asumsi ini menyatakan bahwa struktur bangunan gedung yang bersifat daktail dan struktur bangunan gedung yang bersifat elastik penuh, akibat pengaruh Gempa Rencana akan menunjukkan simpangan maksimal dm yang sama dalam kondisi diambang keruntuhan. Asumsi ini adalah konservatif, karena dalam keadaan sesungguhnya struktur bangunan gedung yang daktail memiliki dm yang relatif lebih besar dibandingkan struktur bangunan gedung yang elastis, sehingga memiliki faktor daktilitas struktur (m) yang relatif lebih besar dari pada yang diasumsikan

Nilai faktor daktilitas struktur gedung m di dalam perencanaan struktur gedung dapat dipilih menurut kebutuhan, tetapi tidak boleh diambil lebih besar dari nilai faktor daktilitas maksimum mm yang dapat dikerahkan oleh masing-masing sistem atau subsistem struktur gedung. Dalam Tabel 4.3 ditetapkan nilai mm yang dapat dikerahkan oleh beberapa jenis sistem dan subsistem struktur gedung, berikut faktor reduksi maksimum Rm yang bersangkutan.

žJika besarnya beban gempa sudah dapat diperkirakan, maka pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana menentukan arah beban gempa terhadap bangunan.  Dalam kenyataannya arah datangnya gempa terhadap bangunan tidak dapat ditentukan dengan pasti, artinya pengaruh gempa dapat datang dari sembarang arah.  Jika bentuk denah dari bangunan simetris dan teratur, sehingga bangunan jelas memiliki sistem struktur pada dua arah utama bangunan yang saling tegak lurus, perhitungkan arah gempa dapat dilakukan lebih sederhana.
žPembebanan gempa tidak penuh tetapi biaksial atau sembarang dapat menimbulkan pengaruh yang lebih rumit terhadap struktur gedung ketimbang pembebanan gempa penuh tetapi uniaksial. Untuk mengantisipasi kondisi ini Applied Technology Council (ATC, 1984) menetapkan bahwa, arah gempa yang biaksial dapat disimulasikan dengan meninjau beban Gempa Rencana yang disyaratkan oleh peraturan, bekerja pada ke dua arah sumbu utama struktur bangunan yang saling tegak lurus secara simultan. Besarnya beban gempa pada struktur dapat diperhitungkan dengan menjumlahkan 100% beban gempa pada satu arah dengan 30% beban gempa pada arah tegak lurusnya.
žBila bentuk denah dari bangunan tidak simetris atau tidak beraturan, maka sulit untuk menentukan arah beban gempa yang paling menentukan.  Untuk ini perlu dilakukan analisis  struktur dengan meninjau pengaruh dari beban gempa pada masing-masing arah dari struktur.  Untuk berbagai arah  gempa yang bekerja, bagian yang kritis dari elemen-elemen struktur akan berbeda pula. Berapa kemungkinan arah gempa yang akan ditinjau pada analisis, sepenuhnya tergantung pada perencana struktur.
žSalah satu faktor yang mempengaruhi besar kecilnya beban gempa yang bekerja pada struktur bangunan adalah faktor wilayah gempa. Dengan demikian, besar kecilnya beban gempa, tergantung juga pada lokasi dimana struktur bangunan tersebut akan didirikan. Indonesia ditetapkan terbagi dalam 6 Wilayah Gempa seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, dimana Wilayah Gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan paling rendah, dan Wilayah Gempa 6 adalah wilayah dengan kegempaan paling tinggi.
žGelombang gempa merambat melalui batuan dasar di bawah permukaan tanah. Dari kedalaman batuan dasar ini gelombang gempa tersebut kemudian merambat ke permukaan tanah sambil mengalami pembesaran (amplifikasi), bergantung pada jenis lapisan tanah yang berada di atas batuan dasar tersebut. Dengan adanya pembesaran gerakan ini, maka pengaruh Gempa Rencana di permukaan tanah harus ditentukan dari hasil analisis perambatan gelombang gempa dari kedalaman batuan dasar ke permukaan tanah.
žAda dua kriteria yang dapat digunakan untuk mendefinisikan batuan dasar, yaitu berdasarkan nilai hasil Test Penetrasi Standar N, atau berdasarkan besarnya kecepatan rambat gelombang geser vs. Batuan dasar adalah lapisan batuan di bawah permukaan tanah yang memiliki nilai hasil Test Penetrasi Standar (SPT) paling rendah N = 60, dan tidak ada lapisan batuan lain di bawahnya yang memiliki nilai SPT<N = 60, atau lapisan batuan yang memiliki kecepatan rambat gelombang geser vs yang mencapai 750 m/detik, dan tidak ada lapisan batuan lain di bawahnya yang memiliki nilai kecepatan rambat gelombang < 750 m/detik. Dalam praktek definisi yang pertama yang umumnya dipakai, mengingat data nilai N merupakan data standar yang selalu diketemukan dalam laporan hasil penyelidikan geoteknik suatu lokasi, sedangkan untuk mendapatkan nilai vs diperlukan percobaan-percobaan khusus di lapangan. Apabila tersedia ke-2 kriteria tersebut, maka kriteria yang menentukan adalah yang menghasilkan jenis batuan yang lebih lunak.
žMenurut SNI Gempa 2002, ada empat jenis tanah dasar harus dibedakan dalam memilih harga C, yaitu Tanah Keras, Tanah Sedang, Tanah Lunak, dan Tanah Khusus. Definisi dari jenis Tanah Keras, Tanah Sedang dan Tanah Lunak dapat ditentukan berdasarkan tiga kriteria, yaitu kecepatan rambat gelombang geser vs, nilai hasil Test Penetrasi Standar N, dan kekuatan geser tanah Su (shear strength of soil). Untuk menetapkan jenis tanah yang dihadapi, paling tidak harus tersedia 2 dari 3 kriteria tersebut, dimana kriteria yang menghasilkan jenis tanah yang lebih lunak adalah yang menentukan. Apabila tersedia ke-3 kriteria tersebut, maka jenis suatu tanah yang dihadapi harus didukung paling tidak ada 2 kriteria tadi.
žDari berbagai penelitian ternyata, bahwa hanya lapisan setebal 30 m paling atas yang menentukan pembesaran gerakan tanah di permukaan tanah. Karena itu, nilai rata-rata berbobot dari ke-3 kriteria tersebut harus dihitung sampai kedalaman tidak lebih dari 30 m. Jenis tanah ditetapkan sebagai Tanah Keras, Tanah Sedang, atau Tanah Lunak, apabila untuk lapisan setebal maksimum 30 m paling atas, dipenuhi syarat-syarat seperti yang tercantum dalam Tabel 4-6.
žPerencanaan serta rekayasa struktur bangunan tahan gempa merupakan salah satu cara untuk mengantisipasi pengaruh-pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh gempa, agar kerugian harta benda serta jatuhnya korban jiwa dapat ditekan seminimal mungkin.  Di Indonesia,  syarat-syarat minimum untuk prosedur perencanaan struktur bangunan tahan gempa telah tercantum di dalam beberapa peraturan yang berlaku.  Untuk struktur bangunan gedung persyaratan-persyaratan ini tercantum di dalam beberapa pedoman yaitu :
ž
*Tatacara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SNI-03-2847-2002)
*Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung              (SNI 1726-2002)
*Tatacara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung (SNI-03-1729-2002)

Sedangkan untuk struktur jembatan atau struktur jalan layang (fly over), ketentuan mengenai persyaratan desain struktur terhadap pengaruh gempa, tercantum di dalam pedoman atau manual Sistem Manajemen Jembatan-1992.

Perencanaan struktur bangunan di daerah rawan gempa, memerlukan filosofi dan antisipasi yang tepat dengan menggunakan spesifikasi atau peraturan yang berlaku.

žDalam kaitannya dengan perencanaan struktur bangunan tahan gempa, struktur bangunan diklasifikasikan menjadi dua jenis struktur, yaitu  Engineered Structures dan Non-engineered Structures.
žEngineered Structures adalah struktur-struktur bangunan yang memerlukan tenaga ahli di dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya. Sebagai contoh dari Engineered Structures adalah struktur gedung bertingkat, struktur jembatan dan jalan layang, fasilitas pembangkit tenaga listrik atau tenaga nuklir, bendungan serta bangunan air, dan lain-lain.
žSedangkan Non-engineered Structures adalah struktur-struktur bangunan yang direncanakan dan dilaksanakan tanpa bantuan tenaga ahli, tetapi masih harus memenuhi kriteria persyaratan bangunan pada umumnya, sesuai yang tercantum di dalam standar bangunan (building code) yang ada.
ž
žPada suatu proyek bangunan Teknik Sipil, pada umumnya biaya yang diperhitungkan meliputi biaya untuk perencanaan, biaya pelaksanaan atau pembangunan konstruksi, dan biaya perawatan atau perbaikan jika terjadi kerusakan. Makin tinggi tingkat kekuatan dari struktur bangunan terhadap pengaruh gempa, maka akan semakin besar biaya yang diperlukan untuk pembuatan konstruksi bangunan, akan tetapi akan semakin kecil biaya yang diperlukan untuk perbaikan jika bangunan tersebut mengalami kerusakan akibat gempa. Begitu juga sebaliknya, makin kurang kuat struktur bangunan terhadap gempa, maka akan semakin kecil biaya yang diperlukan untuk pembuatan konstruksi bangunannya, tetapi akan semakin besar biaya yang harus disediakan untuk perbaikan jika bangunan tersebut mengalami kerusakan akibat gempa.
žDari beberapa segi pertimbangan tersebut di atas, maka merupakan suatu hal yang tidak wajar, atau bahkan tidak mungkin untuk membuat konstruksi bangunan yang tidak mengalami kerusakan sama sekali pada saat terjadi gempa. Dari segi konstruksi, perlu ditinjau tingkat kerusakan yang dapat terjadi pada bangunan pada saat terjadi gempa. Kerusakan yang terjadi pada bangunan dapat berupa kerusakan ringan, kerusakan berat, atau bahkan keruntuhan dari bangunan.
ž
žMenurut saran dari Applied Technology Council (ATC, 1984), struktur bangunan tahan gempa harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :
žStruktur bangunan harus tetap utuh dan tidak mengalami kerusakan yang  berarti, pada saat terjadi Gempa Ringan.
žKomponen non-struktural dari struktur bangunan diperkenankan mengalami kerusakan, tetapi komponen struktural harus tetap utuh pada saat terjadi Gempa Sedang.
žPada saat terjadi Gempa Kuat, komponen non-struktural dan komponen struktural dari sistem struktur diperbolehkan mengalami kerusakan, tetapi struktur bangunan secara keseluruhan tidak boleh runtuh. Kerusakan struktur bangunan pada saat terjadi Gempa Kuat diijinkan, akan tetapi terjadinya korban jiwa harus selalu dihindarkan.
ž
žJadi pada persyaratan struktur bangunan tahan gempa, kemungkinan terjadinya risiko kerusakan pada bangunan merupakan hal yang dapat diterima, tetapi keruntuhan total (collapse) dari struktur yang dapat mengakibatkan terjadinya korban yang banyak, harus dihindari.
žDari persyaratan di atas, dapat disimpulkan juga bahwa, adalah tidak ekonomis untuk mendesain suatu struktur bangunan yang tetap berperilaku elastis pada saat terjadi Gempa Kuat. Perencanaan struktur bangunan seperti ini akan menyebabkan struktur bangunan menjadi sangat mahal. Agar didapatkan struktur bangunan yang kuat terhadap pengaruh gempa tetapi juga ekonomis, perlu dirancang struktur yang berperilaku daktail pada saat terjadi Gempa Kuat. Ini berarti bahwa struktur harus dirancang dengan tingkat daktilitas yang tinggi, sehingga pada saat terjadi Gempa Kuat struktur mempunyai kemampuan untuk mengalami deformasi yang besar tanpa mengakibatkan keruntuhan.
ž
žKemampuan dari struktur bangunan untuk mampu berdeformasi di atas batas elastisnya, dapat mengurangi pengaruh dari gaya gempa yang masuk ke dalam struktur.  Energi gempa yang masuk ke dalam struktur, akan dipancarkan keluar melalui kemampuan mekanisme perubahan bentuk yang besar dari struktur.
ž Berdasarkan pertimbangan ini, di dalam peraturan perencanaan bangunan tahan gempa yang berlaku di Indonesia, ditetapkan suatu taraf beban Gempa Rencana yang lebih kecil dari beban gempa sesungguhnya yang mungkin terjadi selama umur rencana dari struktur bangunan. Hal ini dapat diterima dengan dua alasan yaitu :
žBeban gempa adalah beban dinamik dengan arah bolak-balik, yang tidak bersifat terus menerus bekerja pada struktur bangunan, atau dapat dikatakan bahwa beban gempa merupakan  beban sementara yang bekerja pada struktur bangunan.
ž
žStruktur bangunan harus direncanakan sebagai struktur yang daktail, sehingga jika kekuatannya terlampaui pada saat terjadi Gempa Kuat, struktur tidak akan runtuh melainkan akan berdeformasi plastis,  melalui mekanisme terbentuknya sejumlah sendi-sendi plastis pada struktur dengan cara yang terkontrol.
ž
žDari kedua alasan tersebut, jelas bahwa persyaratan yang paling penting pada perencanaan struktur bangunan tahan gempa adalah daktilitas struktur.  Elemen-elemen struktural dari bangunan seperti balok dan kolom, harus direncanakan dengan tingkat daktilitas yang cukup, sehingga pada saat terjadi Gempa Kuat struktur bangunan mempunyai kemampuan untuk menyerap dan memancarkan energi gempa melalui deformasi plastis. Dengan demikian keruntuhan dari struktur secara keseluruhan dapat dihindari. Dengan terhindarnya struktur bangunan dari keruntuhan, maka dapat diharapkan adanya korban jiwa dapat dihindarkan.
žMenurut saran dari Applied Technology Council (ATC, 1984), suatu struktur bangunan yang didirikan di daerah rawan gempa, harus mampu menahan Gempa Kuat tanpa mengalami keruntuhan. Akibat pengaruh Gempa Kuat, struktur bangunan diperkenankan mengalami kerusakan, tetapi secara keseluruhan struktur bangunan tidak boleh runtuh. Hal ini dimaksudkan agar keselamatan jiwa manusia harus dapat terjamin. Untuk mendapatkan struktur bangunan seperti yang disyaratkan oleh ATC, saat ini telah dikembangkan suatu cara perencanaan struktur tahan gempa, yang disebut Perencanaan Kapasitas (Capacity Design). Perencanaan Kapasitas pada struktur bangunan dimaksudkan untuk mendapatkan sifat daktilitas yang memadai bagi struktur-struktur bangunan yang dibangun di daerah rawan gempa.
žPada umumnya struktur Teknik Sipil dianggap bersifat elastis sempurna, artinya bila struktur mengalami perubahan bentuk atau berdeformasi sebesar 1 mm oleh beban sebesar 1 ton, maka struktur akan berdeformasi sebesar 2 mm jika dibebani oleh beban sebesar 2 ton. Hubungan antara beban dan deformasi yang terjadi pada struktur, dianggap elastis sempurna berupa hubungan linier. Jika beban tersebut dikurangi besarnya sampai dengan nol, maka deformasi pada struktur akan hilang pula (deformasi menjadi nol). Jika beban diberikan pada arah yang berlawanan dengan arah beban semula, maka deformasi struktur akan negatif pula, dan besarnya akan sebanding dengan besarnya beban. Pada kondisi seperti ini struktur mengalami deformasi elastis. Deformasi elastis adalah deformasi yang apabila bebannya dihilangkan, maka deformasi tersebut akan hilang, dan struktur akan kembali kepada bentuknya yang semula.
žPada struktur yang bersifat getas (brittle), maka jika beban yang bekerja pada struktur sedikit melampaui batas maksimum kekuatan elastisnya, maka struktur tersebut akan patah atau runtuh. Pada struktur yang daktail (ductile) atau liat, jika beban yang ada melampaui batas maksimum kekuatan elastisnya, maka struktur tidak akan runtuh, tetapi struktur akan mengalami deformasi plastis (inelastis). Deformasi plastis adalah deformasi yang apabila bebannya dihilangkan, maka deformasi tersebut tidak akan hilang. Pada kondisi plastis ini struktur akan mengalami deformasi yang bersifat permanen, atau struktur tidak dapat kembali kepada bentuknya yang semula. Pada struktur yang daktail, meskipun terjadi deformasi yang permanen, tetapi struktur tidak mengalami keruntuhan.
žPada kenyataannya, jika suatu beban bekerja pada struktur, maka pada tahap awal, struktur akan berdeformasi secara elastis. Jika beban yang bekeja terus bertambah besar, maka setelah batas elastis dari bahan struktur dilampaui, struktur kemudian akan berdeformasi secara plastis (inelastis). Dengan demikian pada struktur akan terjadi deformasi elastis dan deformasi plastis, sehingga jika beban yang bekerja dihilangkan, maka hanya sebagian saja dari deformasi yang hilang (deformasi elastis = de), sedangkan sebagian deformasi akan bersifat permanen (deformasi plastis = dp). Perilaku deformasi elastis dan plastis dari struktur diperlihatkan pada Gambar 4-17.
ž
žDari uraian di atas tampak bahwa, pada struktur yang daktail, beban yang besar akibat gempa tidak akan menyebabkan keruntuhan dari struktur, lebih-lebih karena beban gempa merupakan beban dinamis yang arahnya bolak-balik. Beban gempa yang besar akan menyebabkan deformasi yang permanen dari struktur akibat rusaknya elemen-elemen dari struktur seperti balok dan kolom. Pada kondisi seperti ini, walaupun elemen-elemen struktur bangunan mengalami kerusakan, namun secara keseluruhan struktur tidak mengalami keruntuhan.
žEnergi gempa yang bekerja pada struktur bangunan, akan dirubah menjadi energi kinetik akibat getaran dari massa struktur, energi yang dihamburkan akibat adanya pengaruh redaman dari struktur, dan energi yang dipancarkan oleh bagian-bagian struktur yang mengalami deformasi plastis. Dengan demikian sistem struktur yang bersifat daktail dapat membatasi besarnya energi gempa yang masuk pada struktur, sehingga pengaruh gempa dapat berkurang.
žAgar perencanaan struktur dapat dilakukan dengan cara analisis statik yang sederhana, tanpa melakukan prosedur analisis dinamik yang rumit, serta perilaku struktur diharapkan mempunyai kinerja yang baik pada saat terjadi gempa, maka sangat penting untuk mengatur tata letak dari struktur bangunan. Beberapa kriteria dasar yang dapat dipakai sebagai acuan untuk merencanakan tata letak struktur bangunan di daerah rawan gempa adalah :
ž
žStruktur bangunan harus mempunyai bentuk yang sederhana, kompak  dan simetris
žStruktur bangunan tidak boleh terlalu langsing, baik pada denahnya maupun potonganya, serta mempunyai kekakuan yang cukup.
žDistribusi dari massa, kekakuan dan kekuatan disepanjang tinggi bangunan diusahakan seragam dan menerus.
žElemen-elemen vertikal dari struktur (kolom) harus dibuat lebih kuat dari elemen-elemen horisontal dari struktur (balok), agar sendi plastis terbentuk terlebih dahulu pada balok-balok (strong column – weak beam).
žProsedur analisis yang paling sederhana dan yang langsung dapat digunakan untuk menentukan pengaruh dari beban gempa terhadap struktur bangunan adalah prosedur analisis statik. Analisis statik hanya boleh dilakukan untuk struktur-struktur bangunan dengan bentuk yang sederhana dan beraturan atau simetris, yang tidak menunjukkan perbandingan yang menyolok dalam perbandingan antara berat dan kekakuan pada tingkat-tingkatnya. Prosedur analisis statik ini hanyalah suatu cara pendekatan yang menirukan pengaruh dinamik dari beban gempa yang sesungguhnya.
žUntuk struktur-struktur bangunan gedung lainnya yang tidak begitu mudah untuk diperkirakan perilakunya terhadap pengaruh gempa (struktur dengan bentuk yang tidak beraturan), harus di analisis dengan prosedur analisis dinamik. Perubahan-perubahan bentuk yang terjadi pada struktur akibat beban gempa yang bersifat dinamik, akan menyebabkan simpangan-simpangan yang tidak beraturan, sehingga gaya-gaya inersia yang ditimbulkan oleh pengaruh gempa menjadi tidak beraturan pula. Oleh karena itu tidaklah mungkin untuk memperkirakan dengan tepat pembagian dari gaya-gaya gempa di dalam struktur bangunan ini dengan analisis statik. Struktur-struktur bangunan yang beraturan, dapat juga dianalisis dengan prosedur analisis dinamik jika diinginkan.
žPengaruh beban gempa horisontal dapat bekerja pada masing-masing arah dari sumbu utama bangunan, atau pada kedua arah sumbu utama dari struktur bangunan secara bersamaan. Pengaruh bekerjanya beban gempa secara bersamaan pada kedua arah sumbu utama, dapat sangat membahayakan kekuatan struktur. Oleh karena itu agar sistem struktur tetap mampu untuk menahan beban gempa yang bekerja, maka unsur-unsur vertikal utama (kolom-kolom) dari struktur bangunan yang berfungsi untuk menahan gaya horisontal, perlu direncanakan kekuatannya terhadap pengaruh 100% dari beban gempa dalam satu arah sumbu utama bangunan, dikombinasikan dengan pengaruh 30% dari beban gempa dalam arah tegak lurus padanya.  Kombinasi pembebanan yang perlu ditinjau untuk merencanakan kekuatan dari kolom-kolom struktur adalah :
ž
žBeban gravitasi + 100% beban gempa arah X + 30% beban gempa arah Y
žBeban gravitasi + 30% beban gempa arah X + 100% beban gempa arah Y
ž

Beban gravitasi yang ditinjau pada perhitungan di atas adalah beban mati ditambah dengan beban hidup yang direduksi. Kombinasi pembebanan yang menghasilkan keadaan yang paling berbahaya bagi kolom-kolom struktur dan elemen-elemen vertikal struktur penahan gempa seperti dinding geser (shear wall), dinding inti (core wall), adalah yang digunakan untuk perencanaan.  Pengaruh dari bekerjanya beban gempa secara bersamaan pada elemen-elemen horisontal struktur seperti balok, pelat, atau elemen-elemen horisontal lainnya adalah kecil, sehingga dapat diabaikan. Untuk perencanaan kekuatan dari elemen-elemen ini cukup direncanakan terhadap pengaruh beban gempa horisontal dalam satu arah saja. Gambar 1 di atas menunjukkan kemungkinan dari arah beban gempa yang dapat bekerja secara bersamaan pada struktur bangunan.

žSelain percepatan gerakan tanah pada arah horisontal, pada saat terjadi gempa terdapat juga percepatan gerakan tanah berarah vertikal. Gerakan tanah kearah vertical ini ini dapat mengakibatkan pengaruh beban gempa berarah vertikal yang bekerja pada struktur bangunan. Meskipun dari beberapa pengalaman gempa menunjukkan mekanisme ini, tapi sampai saat ini respon dari struktur bangunan terhadap gerakan tersebut belum banyak diketahui. Pada umumnya, tinjauan perencanaan struktur terhadap pengaruh beban gempa arah vertikal ini dapat diabaikan, dengan anggapan bahwa elemen-elemen dari struktur telah direncanakan berdasarkan beban gravitasi (beban mati dan beban hidup) yang arahnya vertikal ke bawah.
žBeban gravitasi vertikal pada struktur bangunan dapat terdiri dari kombinasi antara beban mati dan beban hidup. Beban-beban hidup yang bekerja pada struktur bangunan pada umumnya dapat direduksi pada saat dilakukan analisis beban gempa pada struktur tersebut, sehubungan dengan kecilnya kemungkinan bekerjanya beban hidup penuh dan pengaruh beban gempa penuh secara bersamaan pada struktur secara keseluruhan. Tujuan mereduksi beban hidup ini adalah untuk mendapatkan desain struktur yang cukup ekonomis. Besarnya beban mati dan beban hidup dapat dihitung dengan mengacu pada standar pembebanan yang berlaku.
ž
žAnalisis perancangan struktur bangunan terhadap pengaruh beban gempa secara statik, pada prinsipnya adalah menggantikan gaya-gaya horisontal yang bekerja pada struktur bangunan akibat pengaruh pergerakan tanah yang diakibatkan gempa, dengan gaya-gaya statik yang ekuivalen.
žTujuan dari analisis statik adalah untuk menyederhanaan prosedur perhitungan. Prosedur analisis statik yang sering digunakan pada praktek perencanaan struktur bangunan gedung, adalah Analisis Beban Gempa Nominal Statik Ekuivalen. Pada metode ini diasumsikan bahwa gaya horisontal akibat gempa yang bekerja pada suatu elemen struktur, besarnya ditentukan berdasarkan perkalian antara suatu koefisien atau konstanta, dengan berat atau massa dari elemen-elemen struktur tersebut.
žPada standar gempa yang berlaku di Indonesia, metode analisis statik untuk memperhitungkan pengaruh beban gempa pada struktur bangunan hanya boleh digunakan untuk menganalisis struktur bangunan yang beraturan. Struktur bangunan gedung dapat dianggap beraturan jika memenuhi beberapa ketentuan antara lain, tinggi struktur bangunan tidak lebih dari 10 tingkat atau 40 meter, denah struktur bangunan berbentuk persegi panjang tanpa adanya tonjolan-tonjolan, sistem struktur bangunan gedung mempunyai bentuk yang sederhana dan beraturan, serta mempunyai massa dan kekakuan yang hampir seragam pada seluruh tingginya.
.
žAnalisis Beban Gempa Nominal Statik Ekivalen merupakan  metode pendekatan dari sifat-sifat dinamik yang sebenarnya dari beban gempa yang bekerja pada struktur. Struktur-struktur  yang tidak begitu mudah untuk diperkirakan perilakunya terhadap beban gempa,  struktur-struktur dengan tinggi tingkat lebih dari 40 meter, atau struktur-struktur gedung yang tidak beraturan dengan ketinggian tingkat kurang dari 40 meter, harus dianalisis dengan prosedur analisis dinamik.
žBesarnya beban Gempa Nominal statik ekuivalen yang digunakan untuk perencanaan struktur ditentukan oleh tiga hal, yaitu oleh besarnya Gempa Rencana, oleh tingkat daktilitas yang dimiliki struktur, dan oleh nilai faktor tahanan lebih yang terkandung di dalam struktur.  Berdasarkan pedoman gempa yang berlaku di Indonesia yaitu Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Rumah dan Gedung (SNI 03-1726-2002)., besarnya Beban Gempa Nominal (V) yang bekerja pada struktur bangunan,  ditentukan menurut persamaan :

Dimana, I adalah Faktor Keutamaan Struktur, C adalah nilai Faktor Respon Gempa yang didapat dari  Respon Spektrum Gempa Rencana untuk waktu getar alami fundamental struktur T, dan  Wt  ditetapkan sebagai jumlah dari beban mati ditambah beban hidup yang direduksi. R adalah Faktor Reduksi Gempa yang besarnya tergantung dari besarnya tingkat daktilitas struktur. Untuk struktur bangunan gedung yang berperilaku elastik penuh harga R=1,6, sedangkan untuk bangunan gedung yang berperilaku daktail penuh harga R=8,5.

žPada struktur bangunan gedung bertingkat, beban gempa horisontal V, untuk selanjutnya didistribusikan pada setiap tingkat dari struktur bangunan gedung. Besarnya gaya gempa yang bekerja pada masing-masing tingkat dari bangunan gedung tergantung dari berat dan ketinggian tingkat.
žBeban gempa yang bekerja pada struktur bangunan merupakan gaya inersia. Besarnya gaya inersia ini tergantung dari banyak faktor. Berat atau massa bangunan dan percepatan gempa merupakan faktor yang paling utama. Faktor-faktor lainnya yang juga mempengaruhi besarnya beban gempa pada struktur adalah bagaimanan cara massa dari bangunan tersebut terdistribusi, kekakuan dari sistem struktur bangunan, kondisi tanah di dasar bangunan, mekanisme redaman pada struktur bangunan, dan perilaku dari getaran gempa. Faktor yang terakhir ini paling sulit ditentukan secara tepat karena sifatnya yang acak (random). Gerakan tanah yang ditimbulkan oleh getaran gempa dapat berperilaku tiga dimensi. Pada umumnya, hanya gerakan tanah kearah horisontal saja yang ditinjau di dalam perencanaan struktur.
žPeriode atau waktu getar struktur yang besarnya dipengaruhi oleh massa dan kekakuan struktur, merupakan faktor penting yang mempengaruhi respon struktur terhadap getaran gempa. Struktur yang kaku dengan periode getar yang pendek, misalnya struktur portal dengan dinding geser, akan menerima beban gempa yang lebih besar dibandingkan struktur yang fleksibel dengan periode getar yang panjang, misalnya struktur portal biasa. Penggunaan dinding geser pada sistem struktur sering tidak dapat dihindari, khususnya pada bangunan-bangunan tinggi atau pada bangunan-bangunan yang didirikan di wilayah atau zona gempa yang berat. Fungsi dari dinding geser disini adalah untuk membatasi besarnya simpangan horisontal yang terjadi pada struktur.
.
žUntuk keperluan analisis pendahuluan, waktu getar alami (T) dari struktur bangunan gedung  (dalam detik) dapat ditentukan dengan rumus pendekatan atau rumus empiris sebagai berikut :
žUntuk struktur-struktur bangunan gedung yang berbentuk portal tanpa unsur pengaku      (dinding geser/ shear wall atau bracing) yang membatasi simpangan :

T empiris  = 0,085 H 0,75    ( untuk portal baja )

T empiris  = 0,060 H 0,75    ( untuk portal beton )

Untuk struktur-struktur bangunan gedung lainnya :

T empiris  = 0,009 H/( B ) 0,5

ždimana H adalah ketinggian dari struktur bangunan gedung (dalam meter) di ukur dari taraf  penjepitan lateral, dan B adalah panjang dari denah struktur bangunan dalam arah gempa yang ditinjau (dalam meter).
ž
žSetelah didapatkan gaya-gaya gempa pada struktur dengan menggunakan T empiris, waktu getar sebenarnya dari struktur gedung beraturan dalam arah masing-masing sumbu utama dapat dihitung ulang dengan menggunakan Rumus Rayleigh sebagai berikut :

dimana :

Wi  =  Bagian dari seluruh beban vertikal yang disumbangkan oleh beban-beban vertikal yang bekerja pada lantai tingkat ke i (dalam kg) pada peninjauan gempa

Fi   =  Beban gempa horisontal pada arah yang ditinjau yang bekerja pada lantai tingkat ke i (dalam kg)

di  =  Simpangan horisontal pusat berat pada lantai tingkat ke i (dalam mm) akibat beban gempa

n   =  Jumlah lantai tingkat pada struktur bangunan gedung

g   =  Percepatan gravitasi yang ditetapkan sebesar 9810 mm/det2.

ž
žWaktu getar alami fundamental dari struktur bangunan gedung ditentukan dengan rumus-rumus empirik atau didapat dari hasil analisis vibrasi bebas 3 dimensi, nilainya tidak boleh menyimpang lebih dari 20% dari nilai waktu getar struktur yang dihitung dengan Rumus  Rayleigh.
žBeban Gempa Nominal Statik Ekuivalen (V) akibat gempa harus didistribusikan di sepanjang tinggi tingkat gedung menjadi beban-beban horisontal terpusat (Fi), yang bekerja pada masing-masing lantai tingkat (Gambar 4), dengan rumus :
ž

dimana Wi adalah berat lantai tingkat ke-i, termasuk beban hidup yang sesuai, hi adalah ketinggian lantai tingkat ke-i diukur dari taraf penjepitan lateral, dan sedangkan n adalah nomor lantai tingkat paling atas.

Taraf penjepitan lateral adalah taraf dimana gerakan tanah akibat gempa dipindahkan dari tanah kepada struktur atas bangunan melalui struktur bawahnya.  Dalam analisis, struktur atas dapat dianggap terjepit pada taraf penjepitan lateral. Jika terdapat basement, taraf penjepitan lateral dapat dianggap terjadi pada taraf lantai dasar. Jika tidak ada basement, taraf penjepitan lateral dapat dianggap terjadi pada bidang telapak pondasi langsung atau pondasi rakit, dan pada bidang atas pile cap pondasi tiang.

žPembagian beban gempa statik ekuivalen (V) horisontal, harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
žJika perbandingan antara tinggi struktur dan lebar denah bangunan adalah sama atau melebihi 3, maka 0,10 V harus dianggap sebagai beban horisontal terpusat yang  bekerja pada pusat massa lantai puncak bangunan, sedangkan 0,90 V sisanya harus dibagikan menjadi beban-beban horisontal terpusat menurut rumus di atas.
žUntuk cerobong yang berdiri di atas tanah, 0,20 V harus dianggap sebagai beban horisontal terpusat yang bekerja pada puncaknya, sedangkan 0,80 V sisanya harus dibagikan menjadi beban-beban horisontal terpusat menurut rumus di atas.
žUntuk tangki di atas menara, beban horisontal terpusat sebesar V harus dianggap bekerja pada titik berat seluruh struktur menara dan tangki berikut isinya.
ž
About these ads
Categories: Civil Engineering
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: